Posts Subscribe to This BlogComments

Follow Us

Postingan Baru

1 2 3 4 5 6 7 8

Pengaruh Aktivitas Manusia terhadap Perubahan & Pencemaran Lingkungan

Di dalam suatu ekosistem, manusia mampu dan berperan dalam mengubah ekosistem tersebut. Dapat dikatakan bahwa manusialah yang menjadi penentu dari keseimbangan suatu ekosistem. Untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, manusia dapat mengubah ekosistem. Sebagai contoh, tanah tandus oleh manusia dapat diubah menjadi tanah
yang subur dan siap ditanami. Demikian juga dengan hutan lindung yangditebangi dapat diubah menjadi lahan pertanian yang dapat dimanfaatkanmanusia untuk bercocok tanam. Usaha-usaha itu dilakukan manusia
untuk menyejahterakan hidupnya. Akan tetapi, kadang-kadang manusialupa bahwa usaha-usaha tersebut dapat merugikan manusia sendirikarena mereka tidak mengetahui bahwa tindakan tersebut dapat merusak
keseimbangan ekosistem. Ekosistem dan lingkungan sangat erat hubungannya karena
ekosistem adalah bagian dari lingkungan. Dapat dikatakan bahwa ruang lingkup lingkungan lebih luas daripada ruang lingkup ekosistem. Ruang lingkup lingkungan tidak hanya membahas hubungan antara komponen
biotik dan abiotik, tetapi juga mencakup interaksi antara manusia dan lingkungannya. Interaksi manusia dan lingkungannya ini dapat berupa interaksi sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Bab ini membahas hubungan antara faktor biotik dan abiotik serta hubungannya dengan perubahan dan pencemaran lingkungan serta usahausaha pendaurulangan limbah sebagai hasil dari pencemaran lingkungan. Seperti telah dicontohkan di atas bahwa berbagai usaha manusia untuk menyejahterakan kehidupannya, tanpa disadari, sering kali dapat
menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Dampak negatif dari kegiatan manusia ini dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Selain dari faktor manusia itu sendiri, sumber pencemaran lingkungan juga dapat
disebabkan oleh faktor alami, seperti bencana alam banjir, gunung meletus, dan tanah longsor. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh faktor manusia dapat dikurangi dan dikendalikan, sedangkan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh alam tidak dapat dicegah. Manusia sangat berperan dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Dengan berbagai upaya, mereka dapat mengurangi dan mengendalikan terjadinya pencemaran, baik itu pencemaran udara, air, maupun tanah. Jika tidak dikendalikan, pencemaran lingkungan dapat mengakibatkan berbagai macam masalah, seperti kerusakan lingkungan, punahnya berbagai makhluk hidup, dan kesehatan manusia. Daur ulang adalah salah satu cara yang dapat dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan limbah.
 
 

DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT KEGIATAN MANUSIA

1. Perubahan Lingkungan: Alami dan Buatan Manusia
Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini ada tiga istilah yang masih saling berkaitan, yaitu “Lingkungan, Ekosistem, dan Kualitas Hidup”, banyak digunakan untuk melukiskan isu-isu patriotisme yang dapat menggu­gah emosi.  Istilah-istilah ini jarang didefinisikan, barangkali karena  makna-makna “kamusial” seperti itu tidak cukup mencerminkan gema simbo­liknya secara memadai.  Kita tidak akan berhenti dengan tradisi seperti ini, tetapi para pembaca buku ini akan diarahkan oleh konsteks di dalam mana istilah-istilah tersebut digunakan; misalnya saja akan dibuat refer­ensi-referensi bagi lingkungan fisik, biologi, dan sosial-ekonomi. Pada pokoknya kita akan memu-satkan perhatikan pada lingkungan bio-geofisik, dan pengaruh-pengaruh kegiatan manusia terhadapnya.
Dalam kondisi tidak ada manusia sekalipun, lingkungan alami pasti mengal­ami perubahan-perubahan secara kontinyu. Hal ini mungkin saja berlang­sung dalam jangka waktu ratusan juta tahun, seperti misalnya terangkat­nya kontinental dan pembentukan gunung api; atau dalam jangka waktu puluhan ribu tahun seperti  Jaman Es dan perubahan per-mukaan air laut yang menyertainya; atau dalam jangka waktu ratusan tahun seperti halnya eutrofikasi alami dan siltasi danau-danau dangkal; atau bahkan  dalam jangka waktu beberapa tahun, seperti kalau koloni binatang “beaver” mengubah lahan kering menjadi rawa-rawa.  Sebagian dari perubahan-peruba­han alami tersebut bersifat tidak dapat balik (irreversible) seperti eutrofikasi danau, sedangkan lainnya bersifat siklis seperti siklus klimatik tahunan, atau transien seperti kekeringan.
Bersamaan dengan perubahan-perubahan lingkungan secara alami tersebut juga terjadi perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Bahkan pada tingkat budaya masyarakat pemburu dan pengumpul hasil hutan, penggunaan api telah memodifikasi beberapa lingkungan alami.  Kemudian dengan domestikasi hewan dan introduksi pertanian, efek-efek dari kegia­tan-kegiatan ini menjadi lebih luas, terutama kalau semakin banyak manu­sia yang terlibat. Laju perubahan tersebut meningkat dengan berkem-bang­nya industri karena tenaga otot digantikan dengan enerji yang berasal dari bahan bakar fosil hingga beberapa dekade terakhir ini.  Dampak manusia telah mencapai  intensitas yang tidak diharapkan dan mempengaruhi seluruh dunia, karena jumlah penduduk meningkat dengan pesat dan konsumsi setiap kapita yang lebih tinggi

gambar 1.Pemanfaatan sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan

Gambar  2.  Kerugian primer dan sekunder akibat pencemaran
Intervensi manusia, misalnya dengan jalan penebangan hutan, penambangan, pembangunan bendungan besar dan diversi sungai, telah menjadi suatu gaya yang berskala geologis.  Terlepas dari banyaknya  batuan dan material bumi yang dipindahkan setiap tahun dalam berbagai aktivitas pertambangan, konstruksi jalan raya, dan lain-lainnya, pengaruh pada aliran air dan pengisian kembali air bumi mungkin menjadi sangat penting.  Kita hanya mengetahui sedikit sekali siklus-siklus bio-geokimia alami untuk menduga konsekuensi-konsekuensi yang sesungguhnya dari gangguan-gangguan terse­but. Usulan-usulan dari beberapa “Futurist” untuk mendapatkan mineral dari bijih yang kua-litasnya sangat rendah harus diteliti dengan sangat hati-hati; dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh limbahnya bisa sangat serius.
Semakin meningkatnya kontrol manusia terhadap lingkungan hidupnya ser­ingkali menciptakan konflik-konflik antara sasaran-sasaran kemanusiaan dengan proses-proses alamiah.  Dalam rangka untuk mencapai hasil yang lebih banyak atau untuk tujuan-tujuan lainnya, manusia berupaya menyim­pangkan aliran enerji alamiah, mengabaikan proses-proses alami, memotong rantai makanan, menyederhanakan ekosistem, dan menggunakan banyak subsi­di enerji untuk  mempertahankan  kenyamanan keseimbangan yang artifisial.  Memang dalam beberapa kasus aktivitas-aktivitas ini dapat menciptakan  atau diperlukan untuk mempertahankan kondisi sekeliling yang dianggap perlu oleh manusia, seperti misalnya aspek-aspek tertentu di daratan Eropa, yang selu-ruhnya merupakan “buatan manusia” tetapi mencerminkan budidaya yang seksama selama banyak generasi.  Walaupun demikian sering terjadi konflik antara strategi-strategi yang memaksimumkan manfaat jangka pendek (misalnya hasil pangan selama lima tahun) dan yang memaksi­mumkan  manfaat jangka panjang (misalnya hasil yang lestari 50 tahun).  Hal yang pertama seringkali mengakibatkan penalti berupa degradasi ling­kungan yang sifatnya tidak dapat balik.  Ketidak-sesuaian antara ahli ekonomi dan ahli ekologi terutama terletak pada perbedaan perspektif waktu yang digunakannya; pada umumnya  5-10 tahun dianggap merupakan periode/jangka panjang oleh para ahli ekonomi, tetapi dianggap jangka pendek oleh para ahli ekologi.  Sedikit pertimbangan dan perhitungan dilibatkan dalam perhitungan ekonomis terhadap proses-proses lingkungan seperti kerusakan tanah yang lambat atau penurunan kapasitas akuifer.
2.Dampak Lingkungan (DAL)
Dampak (L) penting  adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Perubahan mendasar ini meliputi tiga kelompok besar, yaitu:
(1).    Perubahan akibat suatu kegiatan yang (secara kumulatif) menghilangkan identitas rona lingkungan awal secara nyata.
(2).    Perubahan akibat suatu kegiatan yang menimbulkan ekses nyata pada kegiatan lain di sekitarnya
(3).    Perubahan akibat suatu kegiatan yang menyebabkan suatu rencana tata ruang (SDA) tidak dapat dilaksanakan secara konsisten lagi.
Cara penentuan Dampak lingkungan adalah:
(1).    Berdasarkan pengalaman empiris profesional (expert judgement)
(2).    Perubahan dibandingkan dengan baku mutu lingkungan
(3).    Perubahan dibandingkan dengan sistem nilai, fasilitas, pelayanan sosial dan sumberdaya yang diperlukan.
Kriteria penentuan dampak penting adalah:
  1. Jumlah penduduk yang terkena dampak lingkungan
  2. Luas wilayah persebaran dampak lingkungan
  3. Lamanya dampak lingkungan berlangsung
  4. Intensitas dampak lingkungan
  5. Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak lingkungan
  6. Sifat kumulatif dampak lingkungan
  7. Reversibilitas /irreversibilitas  akibat dampak lingkungan.
 

PENDAHULUAN

Secara umum Indonesia berada di daerah tropis yang terletak pada posisi diantara dua benua, Benua Asia dan Benua Australia, serta dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia. Atau disebut juga Indonesia terbentang dari Tropics of Cancer di Belahan Bumi Utara hingga Tropic of Capricorn di Belahan Bumi Selatan. Di dalam wilayah ini tidak ditemui adanya musim dingin. Selain itu di wilayah ini juga ditandai dengan adanya suhu rata-rata diatas muka laut > 18 oC dalam bulan terdingin (Nieuwolt, 1977). Tepatnya secara geografis wilayah Indonesia disebut sebagai maritime continent (Ramage, 1971) yang terletak dalam luasan antara 06º 05’ LU – 10º 25’ LS dan 95º 06’ – 143º 41’ BT (Sandy,1995)

Untuk mempelajari sistem cuaca Indonesia yang unik dan komplek kita perlu memperhitungkan sistem peredaran umum atmosfir Indonesia. Dua komponen peredaran umum yang ikut mempengaruhi sistem cuaca Indonesia yaitu peredaran utara selatan (meridional) yang disebut sebagai peredaran Hadley (sirkulasi Hadley) yang wujudnya dikenal sebagai monsun (angin musim). Monsun Asia Musim Dingin umumnya berkaitan erat dengan musim hujan di Indonesia, sedangkan monsun Australia Musim Dingin bertalian erat dengan terjadinya musim kemarau di wilayah Indonesia (Sulistya, 1995). Dan peredaran barat timur (zonal) yang lazim disebut sebagai peredaran Walker (Sirkulasi Walker). Selain itu fenomena global seperti El-Nino dan La-Nina yang bersumber di lautan Pasifik serta Dipole Mode Event (DME) yang bersumber di lautan Hindia yang akhir akhir-akhir ini makin kerap terjadi ikut mempengaruhi kondisi cuaca/iklim Indonesia.

Proses hidup organisme dimuka bumi ini dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan terdiri dari faktor biotik (biotic factor) dan faktor abiotik (abiotic factor), faktor abiotik terdiri dari faktor tanah dan faktor cuaca/iklim di atmosfir. Faktor genetis tanaman dan hewan dengan tingkat teknologi yang ada telah dapat direkayasa manusia, demikian juga faktor tanah, tanah-tanah tidak produktif telah dapat dimanfaatkan manusia dengan berbagai masukan teknologi. Namun faktor cuaca/iklim hingga dewasa ini belum mampu direkayasa manusia kecuali dalam skala mikro seperti pembuatan rumah kaca. Setiap organisme kehidupannya telah tertentu keadaan cuaca/iklim yang sesuai, dengan demikian jika terjadi perubahan pada unsur cuaca/iklim tersebut jelas akan berdampak negative terhadap organisme tersebut.

Sejak tahun 1950-an masalah lingkungan telah mendapat perhatian masyarakat, yang dipicu oleh terjadinya pencemaran limbah industri dan pertambangan serta pestisida oleh air raksa (Hg) dan cadmium (Cd) dari limbah industri di Jepang. Pencemaran tersebut telah menyebabkan penyakit minamata akibat mengkonsumsi ikan yang ditangkap diteluk Minamata yang tercemar Hg, dan penyakit ital-ital akibat mengkonsumsi beras dari lahan sawah di Jepang yang tercemar Cd.

Tahun 1969 masyarakat Amerika telah bereaksi menentang terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan aktivitas manusia. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrim sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi. Para aktivis lingkungan menjadi lawan bagi perencana pembangunan pada masa itu. Akhirnya di Amerika muncul AMDAL sebagai syarat mutlak izin mendirikan pembangunan dengan penggunaan teknologi canggih, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai penentang atau penghambat pembangunan. Ironisnya karena persyaratan AMDAL cukup berat akhirnya negara maju berupaya memindahkan penanaman modalnya dalam Industri teknologi tinggi ke negara yang sedang berkembang. Negara berkembang memang membutuhkan pembangtunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan belum banyak menyadari kerusakan lingkungan sebagai dampak dari pembangunan tersebut (terutama kerusakan lingkungan Amosfir dan Tanah serta Air) (Soemarwoto, 1990).

Energi radiasi matahari yang sampai kebumi sebagian besar berupa radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini sampai kepermukaan bumi, energi ini berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa, sebagiannya tetap terperangkap di atmosfir bumi. Gas-gas tertentu di atmosfir termasuk uap air, CO2, CH4 menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagai kaca dalam rumah kaca, mampu ditembus radiasi gelombang pendek tetapi tidak mampu ditembus radiasi gelombang panjang, sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfir, semakin banyak panas yang terperangkap dibawahnya.

Semua kehidupan di bumi tergantung pada efek rumah kaca ini, karena tanpanya planet ini akan sangat dingin sehngga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi bila gas-gas ini semakin banyak di atmosfir, akibatnya adalah pemanasan bumi yang terus berlanjut. Dari berbagai laporan menyebutkan yang tergolong gas-gas rumah kaca selain Uap air, CO2 dan CH4 termasuk juga N2O, CFC, CO, NOx, juga gas-gas organik non metan yang volatil (mudah menguap), yang umumnya bersumber dari penggunaan bahan bakar fosil.


IKLIM DAN ATMOSFIR

Dalam mengenal serta memahami sifat-sifat cuaca dan iklim di alam, kita dihadapkan dengan beberapa pengertian yang satu sama lain saling terkait‚ antar lain; Iklim‚ adalah keadaan cuaca rata-rata dalam periode waktu yang panjang pada suatu wilayah tertentu. Ilmu yang mempela­jari iklim disebut Klimatologi. Sedangkan cuaca‚ adalah peris­tiwa fisika yang terjadi di atmosfir, atau keadaan atmosfir pada suatu saat. Dan ilmu yang mempelajari cuaca disebut Meteorologi. Atmosfir‚ atau Atmosfera berasal dari bahasa Yunani "Atmos" yang berarti uap air atau gas dan "Sphaira" yang berarti keadaan sekitarnya atau selimut. Jadi atmosfir dapat diartikan selubung gas, atau selimut gas yang disekitar bumi. Teranglah bahwa pengenalan cuaca dan iklim menyangkut semua peristiwa yang terjadi di atmosfir yang diantaranya radiasi surya, suhu udara, tekanan udara, angin, hujan dan awan, kelembaban udara, penguapan, keseluruhannya disebut juga unsur-unsur cuaca. Peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk daerah yang sempit atau disekitar lokasi usaha tertentu disebut iklim mikro (micro climate) (Darsiman, 2000, 2007).

Karena iklim merupakan rata-rata dari cuaca maka unsur-unsur iklim sama dengan unsur-nsur cuaca. Unsur-unsur cuaca/iklim tersebut satu sama lain saling mempengaruhi dan saling mengendalikan. Sebagai unsur pengendali cuaca/iklim antara lain:

1. Radiasi matahari
2. Suhu udara
3. Kelembaban udara (Relative Humidity= RH)
4. Tekanan udara
5. Angin
6. Ketinggian tempat (elevasi)
7. Penyebaran daratan dan lautan
8. Gangguan-gangguan atmosfir
9. Fenomena-fenomena iklim global, dsb.

Akibat adanya unsur-unsur pengendali iklim diatas maka masing-masing unsur cuaca/iklim berbeda dari suatu tempat ketempat lain atau dari waktu ke waktu dari setiap jengkal lahan secara mikro dibumi ini (Darsiman, 2007).

Untuk mempermudah mempelajari iklim maka para pakar sejak lama telah mengupayakan menyusun suatu penggolongan (klasifikasi) iklim yang efektif dan efisien. Klasifikasi yang sangat lengkap akan mempunyai efektivitas yang sangat tinggi, namun sangat sulit dan kurang efisien atau kurang memiliki arti praktis yang tinggi. Klasifkasi yang terlalu sederhana akan kurang efektif karena kurang cermat walaupun gampang dimengerti dan sangat praktis. Sangat banyak klasifikasi iklim didunia ini sesuai kebutuhan masing-masing negara. Namun sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan di Indonesia antara lain:
Sistem Klasifikasi Koppen (klasifikasi Iklim Dunia). Dasar penyusunannnya Curah Hujan, Suhu, kelembaban tanah/vegetasi. Sistem Klasifikasi menurut Schmidt & Ferguson. Dasar penyusunannya berdasarkan jumlah bulan basah dan jumlah bulan kering. Bulan Basah curah hujan >100 mm, bulan kering curah hujan <60.


DAMPAK PEMBANGUNAN TERHADAP IKLIM DAN ATMOSFIR

Laju degradasi kualitas dan kuantitas lingkungan berlangsung sangat cepat dan telah mengkhawatirkan. Salah satu penyebabnya, buruknya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Kegiatan eksploitasi komersil secara besar-besaran menjadi penyebab kerusakan sumber-sumber kehidupan yang ada di bumi. Sampai Juli 2008 tidak sedikit informasi kemarahan alam karena kerusakannya, banjir dan tanah longsor di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera Utara, angin puting beliung, kekeringan yang melanda Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, dan lain-lain yang secara nyata telah merugikan harta benda dan nyawa masyarakat dan negara yang tidak ternilai harganya. Banyak pihak yang menyadari hal tersebut tapi sangat sedikit yang peduli dan berani mengatakan “hentikan perusakan lingkungan”. Kegiatan eksploitasi lingkungan yang hanya memberikan sedikit manfaat dari segelintir orang harus dibayar mahal oleh negara ini, dan sudah saatnya kebodohan ini dilarang dan dihentikan dengan segera. Tidak ada yang membantah, banjir dan longsor disebabkan karena curah hujan tinggi. Hujan akan turun ketika angin membawa uap air yang disebut awan. Jika terjadi hujan abnormal dan daya dukung lingkungan rendah, maka hujan dapat menyebabkan bencana. Jika terjadi kerusakan satu komponen lingkungan akan mempengaruhi komponen lingkungan yang lain. Kerusakan hutan akan berdampak pada menurunnya tingkat kesuburan tanah, erosi, longsor, suhu udara semakin tinggi, tiupan angin semakin kencang, penguapan dari tanah dan air meningkat, perubahan suhu, dan peningkatan curah hujan. Perubahan iklim yang abnormal seperti saat ini, yang tidak jelas batas musim hujan dan musim kemarau merupakan bukti nyata kegagalan pengelolaan lingkungan di Bumi ini. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktivitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas CO2 dan gas-gas lainnya seperti CO, N2O, NOx, SO2, kegiatan manusia lainnya juga menghasilkan CFC dari AC dan gas Aerosol (seperti untuk kecantikan dan minyak wangi), serta aktivitas pengolahan gambut juga menghasilkan CH4, yang semuanya dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfir. Ketika atmosfir semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak energi panas yang dipantulkan bumi. Dalam laporan yang dikeluarkan tahun 2001, Intergovermenal Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 oC sejak tahun 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfir. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,4-5,8 oC pada tahun 2100. Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian utara dari belahan bumi utara (BBU) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis , bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mancair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Pemanasan global (global warming) adalah peningkatan secara gradual suhu permukaan global akibat efek emisi gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktivitas manusia (antropogenik). Akibat pemanasan global terjadinya perubahan iklim (climate change).

Perubahan iklim dapat mencairkan es di kutub, terjadi perubahan arah dan kecepatan angin, meningkatkan badai atmosfir, seperti angin puting beliung, gelombang pasang, meningkatkan intensitas petir, perubahan pola tekanan udara, perubahan pola curah hujan (banjir dan longsor serta kekeringan), dan siklus hidrologi, serta perubahan ekosistem, hingga bertambahnya jenis organisme penyebab penyakit. Dampak dari banjir dan longsor terjadi erosi yang merusak lahan-lahan subur, terjadinya sedimentasi di sungai, danau dan laut, pendangkalan sungai yang makin mempermudah banjir. Kenaikan permukaan air laut baik oleh sedimentasi maupun oleh mencainya es di kutub, akan terjadi intrusi air laut. Intrusi berakibat air tanah menjadi asin yang dapat merusak tanah dan tanaman. Yang lebih mengerikan lagi laut akan merendam lahan pertanian di dataran rendah serta pemukiman penduduk.. Penyebab pemanasan global dan perubahan iklim adalah meningkatnya gas rumah kaca (GRK) di atmosfir oleh penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak, gas dan batubara. Serta diperparah oleh perubahan lingkungan, rusaknya hutan, tidak adanya kawasan penyangga baik dipantai maupun di daratan. Pemanasan global dan perubahan iklim sangat sulit untuk dihambat namun dampaknya dapat diperlambat terhadap lingkungan bumi. Mitigasinya (pencegahan) kurangi penggunaan bahan bakar fosil. Hentikan penebangan hutan, hutankan kembali kawasan yang telah rusak dan daerah pantai. Lakukan adaptasi disemua sektor terhadap lingkungan iklim yang telah berubah. CFC yang dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti pengguanaan AC, aerosol, bom, dalam peperangan, pesawat jet supersonik, uji coba senjata nuklir, dapat merusak Ozon di atmosfir, rusaknya ozon dapat merubah kualitas dan kuantitas solar radiasi. Selain itu rusaknya ozon akan bertambahnya sinar ultra violet yang sampai kebumi yang akan meningkatkan suhu bumi, dapat meningkatkan penyakit katarak pada mata, kangker kulit. Berubahnya kualitas dan kuantitas solar radiasi dapat menyebabkan iklim menjadi tidak normal, tejadinya degradasi energi matahari yang pada akhirnya dapat merubah ekosistem, spesies tanaman dan hewan, yang akhirnya akan merubah produksi pertanian yang akan berdampak destabilisasi produk hasil pertanian. Asam belerang (SO2) dapat menyebabkan hujan asam, yang dapat meningkatkan kemasaman tanah yang akhirnya tejadi degradasi tanah dan degradasi air. Yang pada akhirnya akan merubah ekosistem. Selain itu hujan asam dapat menyebabkan penyakit pada manusia seperti penyakit batuk, tulang dan buah pinggang. Air laut dan sungai yang menjadi asam dapat membunuh akuatik air seperti ikan, Vegetasi tertentu akan mati, mempercepat usia bangunan dan cat serta merusakkan semua bahan yang terbuat dari besi. Dari hasil pengamatan di Medan, ternyata air hujan di Medan telah asam, sebagaimana data dalam Tabel 1 berikut ini. Karbon dioksida (CO2) dapat menyebabkan pemanasan global, akan meningkatkan suhu udara dan meningkatkan suhu tanah sehingga iklim tidak normal dan terjadinya degradasi tanah yang akan merubah ekosistem. CFC, SO2 dan CO2 diatmosfir akan menyebabkan efek rumah kaca (green hause effect =GHE) yang menyebabkan pemanasan global dan penyimpangan iklim.

Tabel 1. Rataan pH, sulfat, nitrat air hujan, SPM dan curah hujan di Sampali Medan tahun 2005



















Gambar 1. Rataan pH air hujan di Sampali Medan dari Januari-Desember













Gambar 2. Rataan Suspention Partikel Matter (SPM) dan Curah Hujan Sampali Medan

  1. Penyinaran Matahari National Environmental Policy Act (NEPA) 1969 di Amerika Serikat merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang makin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri dan transportasi, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta menurunnya nilai estetika alam. Misalnya sejak permulaan tahun 1950-an Los Angeles telah terganggu oleh kabut asap yang menyelubungi kota mengganggu kesehatan dan merusak tanaman. Kabut asap tersebut berasal dari gas limbah kendaraan dan pabrik yang mengalami fotooksidasi dan terdiri atas ozon, peroksiasetil nitrat, nitrogenoksida dan zat-zat lain (Soemarwoto, 1990). Disamping merusak kesehatan dan lingkungan kabut asap akan menghalangi radiasi matahari sampai kepermukaan bumi, dan akan mengurangi laju fotosintesa tanaman dan akan menurunkan produksi.
  2. Suhu Udara Terjadinya peristiwa iklim ekstrim seperti badai, banjir, dan kekeringan di berbagai belahan bumi selama dua dekade terakhir dicurigai disebabkan oleh adanya proses pemanasan global (global warming) akibat meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfir seperti CO2, CH4, NOx , NO, CFC dan NO2. Hardjawinata (1997) menyatakan kegiatan manusia dengan revolusi industrinya ditambah dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat mempengaruhi mundurnya kualitas lingkungan hidup. Salah satu diantaranya meningkatnya gas rumah kaca yang pada gilirannya meningkatkan suhu udara dipermukaan bumi. Titus dan Seidel (1986) menulis bahwa suhu udara pada zaman es 5 oC lebih rendah dari sekarang. Sedangkan IPCC (1990) melaporkan dalam seratus tahun terakhir telah terjadi kenaikan suhu 0,3 – 0,6 oC. Darsiman (1994, 1995) juga melaporkan perubahan iklim terutama pemanasan global dengan meningkatnya suhu udara ternyata telah merambah ke kota Medan. Peningkatan lebih tajam terjadi sejak 1986. Antara tahun 1966 hingga 1996 peningkatan suhu setiap bulannya bervariasi antara 0,3-0,7 oC.
  3. Unsur Cuaca Lainnya Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebagian besar unsur cuaca bersifat sebagai pengendali cuaca dan iklim, dengan kata lain unsur cuaca saling mempengaruhi unsur-unsur cuaca lainnya. Terjadinya pemanasan akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca pada suatu kawasan, akan berdampak Peningkatan suhu udara di kawasan itu, peningkatan suhu udara akan menurunkan Tekanan Udara. Menurunnya tekanan udara angin akan bergerak dari daerah sekitarnya kelokasi itu, makin tinggi perbedaan tekanan udara kecepatan angin akan semakin kuat. Angin yang bertabrakan pada suatu kawasan akan terjadi konveksi, udara akan naik membubung ke troposfir atas yang akan membentuk awan. Tipe awan yang terbentuk oleh akibat ini disebut tipe awan konvektif atau jenis Cumulonimbus (Cb). Karena dikawasan itu telah diawali oleh gas-gas rumah kaca sebagai polutan di atmosfir, jika awan tadi berubah manjadi hujan akan terjadi hujan asam, dimana akan jatuhnya hujan tersebut tergantung dari mana datangnya arah angin serta kecepatan angin atas, dan sampai dimana terjadi pendinginan maksimum. Sebelum awan Cb berubah manjadi hujan akan diawali oleh petir dan angin puting beliung yang belakangan ini makin kerap terjadi. Kejadian petir ini selalu mengancam peralatan elektronik masyarakat termasuk telepon. Dari berbagai hasil pengamatan BMG dewasa ini petir dan angin puting beliung tidak lagi sopan muncul sebagai ciri khas terbentuknya awan Cb yaitu saat sore menjelang senja.

Disiang bolongpun sering muncul yang mematahkan pepatah kuno “ibarat petir disiang bolong”. Dampak yang pasti telah banyak dirasakan masyarakat angin puting beliung memporak porandakan rumah masyarakat. Akibat pemanasan global lapisan troposfir semakin tebal yang kemampuannya menampung uap air semakin tinggi, dengan dibarengi oleh suhu yang semakin tinggi penguapan akan semakin meningkat. Makin tinggi penguapan walaupun curah hujan normal air tanah lebih banyak menguap dan air tanah tidak cukup lagi untuk tanaman. Yang paling merisaukan adalah distribusi curah hujan makin tidak menentu, ada daerah menjadi lebih kering, dan ada daerah menjadi lebih basah sehingga berpeluang muncul bencana banjir (Salim, 1992). Dampak lain adalah air tanah makin berkurang, sedangkan pengambilan oleh manusia makin meningkat sehingga permukaan air tanah menurun yang dapat mencapai lebih rendah dari permukaan air laut, yang akan terjadi adalah intrusi air laut, sehingga air tanah menjadi asin lahan menjadi rusak, tidak sesuai lagi untuk berbagai jenis tanaman yang akan menurunkan produksi, serta membunuh berbagai satwa mikro tanah yang tidak toleran dengan kondisi asin.


UPAYA PEMERINTAH MENGATASI KERUSAKAN LINGKUNGAN

Laporan Kurnia, dkk (2004) salah satu penyebab pencemaran atmosfir adalah kegiatan industri, pertambangan, pertanian/perkebunan besar, yang tetap berjalan tanpa hambatan. Terjadinya pemanasan global akibat meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar fosil terutama oleh industri dan kendaraan bermotor seperti CO2, CFC, CH4, O3 dan N2O berdampak mencairnya es dikutub sehingga muka laut makin naik, yang meningkatkan laju intrusi dan menenggelamkan desa-desa pantai dan meningkatkan abrasi pantai. Hujan asam akan terjadi yang akan merusak lingkungan yang tidak toleran, menurunkan usia bangunan dan jembatan yang terbuat dari semen karena larut oleh asam secara kimiawi. Dalam laporan yang sama Kurnia, dkk (2004) menyajikan kandungan bahan pencemar dan logam berat dalam tanah, dari jaringan tanaman dan beras yang menggunakan air yang tercemar limbah industri tekstil sebagai air pengairan secara terus menerus diantaranya Cu, Zn, Pb, Cd, Co, Cr, dan Ni. Walaupun tidak menurunkan hasil peranian secara nyata namun bila bahan beracun tersebut masuk kedalam rantai makanan dan secara periodik dikonsumsi manusia, bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Yang pasti dewasa ini dipermukaan bumi telah muncul bermacam penyakit aneh baik manusia maupun hewan dan tanaman, yang masih diselidiki penyebabnya. Arah angin nampaknya perlu dipertimbangkan dalam AMDAL sebelum lokasi Industri disetujui, agar polutan tidak terbawa oleh angin ke lokasi pemukiman. Artinya data dan hasil pengamatan BMG semestinya dimanfaatkan dalam menyusun AMDAL. Badan Meteorologi dan Geofisika telah memiliki 37 stasiun pemantau kualitas udara yang tersebar di 26 propinsi diseluruh Indonesia. Satu diantaranya merupakan jaringan Stasiun Global Atmospheric Watch (GAW) berlokasi di Bukit Koto Tabang Bukittinggi yang mampu menjangkau pengamatan ASEAN, 31 stasiun merupakan jaringan stasiun regional disebut Background Air Pollution Monitoring Network (BAPMon), dan 5 stasiun merupakan jaringan stasiun lokal/perkotaan. Dalam upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan, seperti telah diberlakukan UU RI No 23 thn 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP No 27 tahun 1997 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Keputusan Menteri Negara LH No 30 tahun 1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. Secara praktis langkah-langkah untuk mengatasi dampak pembangunan terhadap kondisi iklim dan atmosfir dapat diusulkan sebagai berikut;
  1. Secara berahap mengganti CFC dengan bahan lain seperti Helium untuk keperluan AC, lemari es dan penyemprot aerosol.
  2. Menyaring asap dari industri dengan alat tertentu untuk mengelakkan Efek Rumah Kaca yan menyebabkan kenaikan suhu dan hujan asam.
  3. Penggunaan bahan bakar untuk kendaraan yang tidak mengandung timah hitam (Pb).
  4. Gunakan kendaraan elektronik
  5. Cegah pembalakan hutan, lakukan reboisasi
  6. Gunakan unsur iklim terutama arah dan kecepatan angin dalam merancang lokasi pabrik, agar emisi gas buangan tidak mencemari perkotaan dan pemukiman.


KESIMPULAN

Dari bebagai penjelasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan:
  1. Untuk mempelajari cuaca Indonesia yang unik dan komplek perlu mempertimbangkan sistem peredaran udara umum atmosfir Indonesia.
  2. Atmosfir dewasa ini telah tercemar oleh limbah industri, yang berdampak terjadinya pemanasan global, dan perubahan iklim.
  3. Dunia terutama Jepang telah menyadari sejak tahun 1950-an, dan Amerika tahun 1969 dimana masyarakatnya telah menentang pembangunan berteknologi tinggi.
  4. Indonesia juga telah mengeluarkan UU RI no 23 th 1997 dan PP No 27 tahun 1997, serta Kepmen LH No 30 tahn 1999, untuk mencegah kerusakan lingkungan.
  5. BMG telah memiliki 37 stasiun pemantau kualitas udara di 26 Propinsi di Indonesia, kiranya perlu diberdayakan datanya untuk memantau dampak perubahan Iklim dan Atmosfir oleh limbah aktivitas manusia.
  6. Secara berahap mengganti CFC dengan bahan lain seperti Helium untuk keperluan AC, lemari es dan penyemprot aerosol.
  7. Menyaring asap dari industri dengan alat tertentu untuk mengelakkan Efek Rumah Kaca yan menyebabkan kenaikan suhu dan hujan asam.
  8. Penggunaan bahan bakar kendaraan yang tidak mengandung timah hitam (Pb).
  9. Gunakan kendaraan elektronik
  10. Cegah pembalakan hutan, dengan kepastian hukum, lakukan reboisasi.
  11. Gunakan unsur iklim terutama Arah dan Kecepatan Angin dalam merancang lokasi pabrik, agar emisi gas buangan tidak mencemari perkotaan dan pemukiman, dan perlunya interpretasi data iklim dalam setiap rancangan AMDAL.


DAFTAR PUSTAKA

Darsiman, B. 2007. Agroklimatologi. Fakultas Pertanian UISU , Medan
Darsiman, B. 2006. Klimatologi. STIP-AP, LPP Medan
Darsiman, B. 2000. Dasar-Dasar Klimatologi. FP-UPMI, Medan.
Darsiman, B. 1994. Isu Perubahan Iklim Bumi dan Pola Pemantauan Suhu Udara di Medan. Makalah disajikan dalam Seminar Sehari HMD BMG Wil.I Medan, 7 April 1994. 18 pp
Darsiman, B. 1995. Perubahan Iklim Bumi dan pengaruhnya terhadap Pertanian. Makalah disajikan dalam Seminar Ilmiah FKK-HIMAGRI KTW.I di FP-UISU Medan, 14 Okt 1995.
Cheung, P. 1992. Land Use and Lend Use Cover Change: A Project on Human Dimension of Global Change. In Proceedings of Asian Symposium on Global Environmental Change. Tokyo, 1-2 December 1992. p. 91-104
Hardjawinata, S. 1997. Perubahan Iklim Bumi. Dalam Sumber Daya Air dan Iklim Dalam Mewujudkan Pertanian Efisien. Kerjasama Deptan dengan PERHIMPI. Bogor
IPCC. 1990. Intergovermental Panel on Climate Change. WMO, UNEP.
Kurnia, U., J. Sri Adiningsih., dan A. Abdurachman. 2004. Strategi Pencegahan dan Penaggulangan Pencemaran Lingkungan Pertanian. Pros. Seminar Nasional Peningkaan Kualitas Lingkungan dan Produk Pertanian. IPB Bogor
Nieuwolt, S. 1977. Tropical Climatology. John Willey and Sons Inc. New York. Ramage, C. S. Monsoon Meteorology. Academic Press Inc. International Geophysics Series, Vol. 15.
Salim, E. 1992. Dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya alam pertanian. Pros. Simposium Meteorologi Pertanian III, Malang 20-22 Agustus 1991. PERHIMPI, Bogor. Hal: 1-3.
Sandy, I. M. 1995. Republik Indonesia. Penerbit PT Indografi Bakti dan Jurusan Geografi FMIPA-UI, Cetakan ke-7
Soemarwoto, O. 1990. AMDAL. Gajahmada University Press. Yogyakarta.
Sulistya, W. 1995. Application D’une Methode D’analyse Factorielle En Composantes Principles Par Rapport Aux Distributions Der Precipitations En Indonesie. Univ. Blaise Pascal, France. Rapport De Tage.
Titus, J. O., and S. R. Seidel. 1986. Overview of the Effect of Changing the Atmosphere, In Effect of Changes in Stratospheric Ozone and Global Climate. Vol 4.
 
Sumber :  Disini ,   Disini,   Disini
Read More...

KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang didasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu hewan tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan oleh John Ray yang berasal dari Inggris. Namun ide itu disempurnakan oleh Carl Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani berkebangsaan Swedia yang dikenal pada masa sekarng dengan Carolus Linnaeus.

Sistem klasifikasi Linnaeus tetap digunakan sampai sekarang karena sifatnya yang sederhana dan fleksibel sehingga suatu organism baru tetap dapat dimasukkan dalam sistem klasifikasi dengan mudah. Nama-nama yang digunakan dalam sistem klasifikasi Linnaeus ditulis dalam bahasa Latin karena pada zaman Linnaeus bahasa Latin adalah bahasa yang dipakai untuk pendidikan resmi.
Adapun tujuan Klasifikasi makhluk hidup adalah :
  1. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki
  2. Mengetahui ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain
  3. Mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup
  4. Emberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama
Selain memiliki tujuan, klasifikasi memiliki manfaat bagi manusia, antara lain :
  1. Klasifikasi memudahkan kita dalam mmpelajari makhluk hidup yang sangat beraneka ragam
  2. Klasifikasi membuat kita mengetahui hubungan kekerabatan antarjenis makhluk hidup
  3. Klasifikasi memudahkan komunikasi
PROSES KLASIFIKASI
Para biologiawan masih menggunakan buku Linnaeus yang berjudul Systema Naturae (sistem Alam) yang diterbitkan tahun 1758 sebagai dasar untuk klasifikasi ilmiah. Ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk mengklasifikasikan makhluk hidup.
  1. Pencandraan (identifikasi), Pencandraan adalah proses mengidentifikasi atau mendeskripsi ciri-ciri suatu makhluk hidup yang akan diklasifikasi.
  2. Pengelompokan, setelah dilakukan pencandraan, makhluk hidup kemudian dikelompokkan dengan makhluk hidup lain yang memiliki ciri-ciri serupa. Makhluk hidup yang memiliki ciri serupa dikelompokkan dalam unit-unit yang disebut takson.
  3. Pemberian nama takson, selanjutnya kelompok-kelompok ini diberi nama untuk memudahkan kita dalam mengenal ciri-ciri suatu kelompok makhluk hidup.
TINGKATAN TAKSON
Dalam sistem klasifikasi, makhluk hidup dikelompokkan menjadi suatu kelompok besar kemudian kelompok besar ini dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil ini kemudian dibagi lagi menjadi kelompok yang lebih kecil lagi sehingga pada akhirnya terbentuk kelompok- kelompok kecil yang beranggotakan hanya satu jenis makhluk hidup. Tingkatan-tingkatan pengelompokan ini disebut takson. Taksa (takson) telah distandarisasi di seluruh dunia berdasarkan International Code of Botanical Nomenclature dan International Committee on Zoological Nomenclature. Urutan takson antara lain :
Kingdom
Divisio
Clasis
Order
Familia
Genus
Species
Tingkatan Dalam Bahasa Indonesia
Dunia/Kerajaan
Divisio/Filum
Kelas
Ordo
Suku
Marga
Jenis
  1. KINGDOM. Kingdom merupakan tingkatan takson tertinggi makhluk hidup. Kebanyakan ahli Biologi sependapat bahwa makhluk hidup di dunia ni dikelompokkan menjadi 5 kingdom (diusulkan oleh Robert Whittaker tahun 1969). Kelima kingdom tersebut antara lain : Monera, Proista, Fungi, Plantae, dan Animalia
  2. FILUM/DIVISIO (KELUARGA BESAR). Nama filum digunakan pada dunia hewan, dan nama division digunakan pada tumbuhan. Filum atau division terdiri atas organism-organisme yang memiliki satu atau dua persamaan ciri. Nama filum tidak memiliki akhiran yang khas sedangkan nama division umumnya memiliki akhiran khas, antara lain phyta dan mycota.
  3. KELAS (CLASSIS). Kelompok takson yang satu tingkat lebih rendah dari filum atau divisio
  4. ORDO (BANGSA). Setiap kelas terdiri dari beberapa ordo. Pada dunia tumbuhan, nama ordo umumnya diberi akhiran ales.
  5. FAMILI. Family merupakan tingkatan takson di bawah ordo. Nama family tumbuhan biasanya diberi akhiran aceae, sedangkan untuk hewan biasanya diberi nama idea.
  6. GENUS (MARGA). Genus adalah takson yang lebih rendah dariada family. Nama genus terdiri atas satu kata, huruf pertama ditulis dengan huruf capital, dan seluruh huruf dalam kata itu ditulis dengan huruf miring atau dibedakan dari huruf lainnya.
  7. SPECIES (JENIS). Species adalah suatu kelompok organism yang dapat melakukan perkawinan antar sesamanya untuk menghasilkan keturunan yang fertile (subur)
TATA NAMA BINOMIAL NOMENCLATURE
Banyak makhluk hidup mempunyai nama local. Nama ini bisa berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Untuk memudahkan komunikasi, makhluk hidup harus diberikan nama yang unik dan dikenal di seluruh dunia. Berdasarkan kesepakatan internasional, digunakanlah metode binomial nomenclature. Metode binominal nomenclature (tata nama ganda), merupakan metode yang sangat penting dalam pemberian nama dan klasifikasi makhluk hidup. Disebut tata nama ganda karena pemberian nama jenis makhluk hidup selalu menggunakan dua kata (nama genus dan species)
Aturan pemberian nama adalah sebagai berikut :
  1. Nama species terdiri atas dua kata, kata pertama merupakan nama genus, sedangkan kata kedua merupakan penunjuk jenis (epitheton specificum)
  2. Huruf pertama nama genus ditulis huruf capital, sedangkan huruf pertama penunjuk jenis digunakan huruf kecil
  3. Nama species menggunakan bahasa latin atau yang dilatinkan
  4. Nama species harus ditulis berbeda dengan huruf-huruf lainnya (bisa miring, garis bawah, atau lainnya)
  5. Jika nama species tumbuhan terdiri atas lebih dari dua kata, kata kedua dan berikutnya harus digabung atau diberi tanda penghubung.
  6. Jika nama species hewan terdiri atas tiga kata, nama tersebut bukan nama species, melainkan nama subspecies (anak jenis), yaitu nama takson di bawah species
  7. Nama species juga mencantumkan inisial pemberi nama tersebut, misalnya jagung (Zea Mays L.). huruf L tersebut merupakan inisial Linnaeus.
    Sumber : Disini
Read More...

METODE ILMIAH BIOLOGI

Metode ilmiah adalah cara kerja dari ilmu pengetahuan, brsifat ilmiah serta merupakan langkah-langkah sistematis yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu yang baik direfleksikan atau diterima begitu saja.

Observasi Prinsip-prinsip Umum
Metode atau cara kerja Ilmu pengetahuan pertama kali di kemukakan oleh Filsuf Yunani, Aristotelas. Ia memandang penelitian ilmiah sebagai kelanjutan dari observasi-observasi empiris ke prinsip umum (induksi) dan kemudian dari prisip umum ke observasi(deduksi).
Jadi, inti dari metode ilmiah adalah dimana seseorang mampu berfikir logis, analistis, (menggunakan analisis), dan empiris (seseai kenyataan).
Dalam melakukan aktifitas ilmiah, kita perlu memperhatikan struktur metode ilmiah, struktur metode penelitian ilmiah, stuktur penulisan ilmiah atau cara penyusun laporan ilmiah, serta bahasa ilmiah. Selain itu kita mampu bersikap ilmiah saat melakukan aktifitas ilmiah.

Struktur Metode Ilmiah

Penelitian akan berhasil dengan baik apabila dilakukan sesuai dengan struktur metode ilmiah. Sruktur metode ilmiah memiliki beberapa langkah yang terdiri dari:
a. perumusan masalah
b. pembuatan kerangka berfikir
c. penarikan hipotesis
d. pengujian hipotesis, dan
e. penarikan kesimpulan.

a. Perumusan masalah
Proses kegiatan ilmiah dimulai ketika kita tertarik pada sesuatu hal. Ketertarikan ini karene manusia memiliki sifat perhatian. Pada saat kita tertarik pada sesuatu, sering timbul pertanyaan dalam pikiran kita. Perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masalah tersebut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu objek serta dapat diketahui factor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut.
b. Pembuatan kerangka berfikir
Pembuatan kerangka berfikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antar berbagai faktot yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Pembuatan kerangka berfikir menggunakan pola berfikir logis, analitis, dan sintesis atas keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Hal itu diperoleh dari wawancara dengan pakar atau dengan pengamatan langsung.
c. Penarikan hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun Hipotesis.

d. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan.
Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat bukti-bukti yang mendukung hipotesis.

e. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.
Hipotesis yang diterima dianggap sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah, sebab telah memenuhi petrsyaratan keilmuan. Syarat keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebanarannya.

UPAYA MENYINGKAP SUATU MASALAH DAN PENERAPANNYA DALAM METODE ILMIAH
NO
Struktur Metode Ilmiah
Penerapan langkah-langkah Metode Ilmiah
1
2
3
4
5
Perumusan masalah
Penyusun kerangka berfikir
Penarikan hipotesis
Pengujian hipotesis
Penarikan kesimpulan
Benarkah kehidupan berasal dari benda mati?
Membaca teori abiogenasis dan hasil penelitian para ilmuan pendukungnya.
Makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebalumnya.
Melakukan percobaan dengan dua bua toples yang masing-masing d isi sekerat daging. Toples I ditutup dan toples II dibiarkan terbuka. Setelah beberapa hari toples I tidak ditemukan adanya belatung dan pada toples II di temukan banyak belatung
Belatung pada daging yang membusuk berasal dari telur lalat yang menetas, jadi makhluk hidup berasal dari mahkluk hidup.
Contoh Penelitian Induksi dan Deduksi
 Induksi
Ari mengamati bahwa daun padi, jagung, sirih, cengkeh, jambu air, jambu biji, serta mangga, semuanya berwarna hijau. Hasil observasi yang di tinjaklanjuti dengan penelitian, ari menemukan bahwa semua daun tersebur mengandung zat hijau daun atau klorofil. Simpulan berdasarka logika induksi adalah ”semua daun berwarna hijau mengandung klorofil”. Berdasarkan data empiris dapat ditarik kesimpulan yang bersifat umum, yaitu semua daun berwarna hijau mengandug klorofil.
Deduksi
Maria dan Nelly daun pohon Damar di daerah pegunungan dan daun Hydrilla di danau, berdasarkan pustaka yang mereka baca, walaupun berbeda habitat, Maria dan Nelly menggunakan Logika Deduksi menyimpulkan bahwa kedua daun tanaman tersebut mengandung klorofil. Dala penelitian tersebut, prisip umumnya ialah semua daun hijau mengandung Klorofil. Hal khisusnya ialah daun damar dan daun hydrilla mengandung klorofil.


Sumber  : Disini
Read More...

Keanekaragaman Hayati Di Indonesia

Tahukah Anda, bahwa Indonesia merupakan salah satu dari tiga Negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi? Dua negara lainnya adalah Brazil dan Zaire. Tetapi dibandingkan dengan Brazil dan Zaire, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah disamping memiliki keanekragaman hayati yang tinggi, Indonesia mempunyai areal tipe Indomalaya yang luas, juga tipe Oriental, Australia, dan peralihannya. Selain itu di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta hewan dan tumbuhan endemik (penyebaran terbatas).
Untuk lebih memahami materi tersebut, silakan Anda simak uraian mengenai keaneragaman hayati yang terdapat di Indonesia berikut ini!
Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia ini terlihat dari berbagai macam ekosistem yang ada di Indonesia, seperti: ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut, ekosistem savanna, dan lain-lain. Masing-masing ekosistem ini memiliki keaneragaman hayati tersendiri.
Tumbuhan (flora) di Indonesia merupakan bagian dari geografi tumbuhan Indo-Malaya. Flora Indo-Malaya meliputi tumbuhan yang hidup di India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Flora yang tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Filipina sering disebut sebagai kelompok flora Malesiana.
Hutan di daerah flora Malesiana memiliki kurang lebih 248.000 species tumbuhan tinggi, didominasi oleh pohon dari familia Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap. Dipterocarpaceae merupakan tumbuhan tertinggi dan membentuk kanopi hutan. Tumbuhan yang termasuk famili Dipterocarpaceae misalnya Keruing ( Dipterocarpus sp), Meranti (Shorea sp), Kayu garu (Gonystylus bancanus), dan Kayu kapur (Drybalanops aromatica).
Hutan di Indonesia merupakan bioma hutan hujan tropis atau hutan basah, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak tumbuhan liana (tumbuhan yang memanjat), seperti rotan. Tumbuhan khas Indonesia seperti durian (Durio zibetinus), Mangga (Mangifera indica), dan Sukun (Artocarpus sp) di Indonesia tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.
Sebagai negara yang memiliki flora Malesiana apakah di Malaysia dan Filipina juga memiliki jenis tumbuhan seperti yang dimiliki oleh Indonesia? Ya, di Malaysia dan Filipina juga terdapat tumbuhan durian, mangga, dan sukun. Di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa terdapat tumbuhan endemik Rafflesia. Tumbuhan ini tumbuh di akar atau batang tumbuhan pemanjat sejenis anggur liar, yaitu Tetrastigma.

Bagaimana dengan wilayah Indonesia bagian timur? Apakah jenis tumbuhannya sama? Indonesia bagian timur, tipe hutannya agak berbeda. Mulai dari Sulawesi sampai Irian Jaya (Papua) terdapat hutan non–Dipterocarpaceae. Hutan ini memiliki pohon-pohon sedang, diantaranya beringin (Ficus sp), dan matoa (Pometia pinnata). Pohon matoa merupakan tumbuhan endemik di Irian.
Selanjutnya, mari kita lihat hewan (fauna) di Indonesia. Hewan-hewan di Indonesia memiliki tipe Oriental (Kawasan Barat Indonesia) dan Australia (Kawasan Timur Indonesia) serta peralihan. Hewan-hewan di bagian Barat Indonesia (Oriental) yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Banyak species mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
2. Terdapat berbagai macam kera, misalnya: bekantan, tarsius, orang utan.
3. Terdapat hewan endemik, seperti: badak bercula satu, binturong (Aretictis binturang), monyet (Presbytis thomari), tarsius (Tarsius bancanus), kukang (Nyeticebus coucang).
4. Burung-burung memiliki warna bulu yang kurang menarik, tetapi dapat berkicau. Burung-burung yang endemik, misalnya: jalak bali (Leucopsar nothschili), elang jawa, murai mengkilat (Myophoneus melurunus), elang putih (Mycrohyerax latifrons).
Sekarang mari kita lanjutkan dengan hewan-hewan yang terdapat di Kawasan Indonesia Timur. Jenis-jenis hewan di Indonesia bagian timur, yaitu Irian, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, relatif sama dengan Australia. Ciri-ciri hewannya adalah:
1. Mamalia berukuran kecil
2. Banyak hewan berkantung
3. Tidak terdapat species kera
4. Jenis-jenis burung memiliki warna yang beragam
Irian Jaya (Papua) memiliki hewan mamalia berkantung, misalnya: kanguru (Dendrolagus ursinus), kuskus (Spiloeus maculatus). Papua juga memiliki kolek si burung terbanyak, dan yang paling terkenal adalah burung Cenderawasih (Paradiseae sp). Di Nusa Tenggara, terutama di pulau Komodo, terdapat reptilian terbesar yaitu komodo (Varanus komodoensis).
Sedangkan daerah peralihan meliputi daerah di sekitar garis Wallace yang terbentang dari Sulawesi sampai kepulauan Maluku, jenis hewannya antara lain tarsius (Tarsius bancanus), maleo (Macrocephalon maleo), anoa, dan babi rusa (Babyrousa babyrussa).
1. Hewan dan Tumbuhan Langka di Indonesia
Di Indonesia banyak terdapat hewan dan tumbuhan yang telah langka. Hewan langka misalnya babirusa (Babyrousa babyrussa), harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), harimau jawa (Panthera tigris sondaicus), macan kumbang (Panthera pardus), orangutan (Pongo pygmaeus abelii di Sumatra dan Pongo pygmaeus-pygmaeus di Kalimantan), badak Sumatra (Decerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah asia (Elephas maximus), bekantan (Nasalis larvatus), komodo (Varanus komodoensis), banteng (Bossondaicus), cendrawasih (Paradisaea minor), kanguru pohon (Dendrolagus ursinus), maleo (Macrocephalon maleo), kakatua raja (Probosciger aterrimus), rangkong (Buceros rhinoceros), kasuari (Casuarius casuarius), buaya muara (Crocodylus porosus), buaya irian (Crocodylus novaeguinae), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu hijau (Chelonia mydas), ular sanca bodo (Phyton molurus), sanca hijau (Chondrophyton viridis), bunglon sisir (Gonyochepalus dilophus). Tumbuh-tumbuhan langka misalnya bedali (Radermachera gigantea), putat (Planchonia valida), kepuh (Sterula foetida), bungur (Lagerstroemia speciosa), nangka celeng (Artocarpus heterophyllus), kluwak (Pangium edule), bendo (Artocarpus elasticus), mundu (Garcinia dulcis), sawo kecik (Manilkara kauki), winong (Tetrameles nudiflora), bayur (Pterospermum javanicum), gandaria (Bouea macrophylla), matoa (Pometia pinnata), sukun berbiji (Artocarpus communis).

Gambar 2. Hewan langka di Indonesia (a) penyu hijau (b) Sanca Hijau
2. Hewan dan Tumbuhan Endemik di Indonesia
Di Indonesia banyak terdapat hewan dan tumbuhan endemik. Hewan dan tumbuhan endemik Indonesia artinya hewan dan tumbuhan itu hanya ada di Indonesia, tidak terdapat di negara lain.
Hewan yang endemik misalnya harimau jawa (Panthera tigris sondaicus), harimau bali (sudah punah), jalak bali putih (Leucopsar rothschildi) di Bali, badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon, binturong (Artictis binturong), monyet (Presbytis thomasi), tarsius (Tarsius bancanus) di Sulawesi Utara, kukang (Nycticebus coucang), maleo (hanya di Sulawesi), komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Komodo dan sekitarnya.
Tumbuhan yang endemik terutama dari genus Rafflesia misalnya Rafflesia arnoldii (endemik di Sumatra Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. cilliata (Kalimantan Timur), R. horsfilldii (Jawa), R.patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatra bagian timur).
Gambar 2. Hewan dan tumbuhan endemikangka di Indonesia (a) jalak bali (b) burung maleo (c) komodo (d) rafflesia arnoldii
Keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia sangat bermanfaat dan mempunyai nilai tertentu. Adapun nilai dan manfaat keanekaragaman hayati adalah sebagai berikut:
A. Nilai Manfaat Keanekaragaman Hayati
1. Nilai ekonomi
Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan (dapat mendatangkan devisa untuk industri). Misalnya untuk bahan baku industri, rempah-rempah, dan perkebunan. Bahan-bahan industri misalnya: kayu gaharu dan cendana untuk industri kosmetik, kayu jati dan rotan untuk meubel, teh dan kopi untuk industri minuman, gandum dan kedelai untuk industri makanan, dan ubi kayu untuk menghasilkan alcohol. Rempah-rempah, misalnya lada, vanili, cabai, bumbu dapur. Perkebunan misalnya: kelapa sawit dan karet.
Gambar 8. Keanakaragaman Hayati yang memiliki nilai ekonomi (a) rotan (b) gandum
2. Nilai Biologis
Keanekaragaman hayati memiliki nilai biologis atau penunjang kehidupan bagi makhluk hidup termasuk manusia. Tumbuhan menghasilkan gas oksigen (O2) pada proses fotosintesis yang diperlukan oleh makhluk hidup untuk pernafasan, menghasilkan zat organik misalnya biji, buah, umbi sebagai bahan makanan makhluk hidup lain. Hewan dapat dijadikan makanan dan sandang oleh manusia. Jasad renik diperlukan untuk mengubah bahan organik menjadi bahan anorganik, untuk membuat tempe, oncom, kecap, dan lain-lain. Nilai biologis lain yang penting adalah hutan sebagai gudang plasma nutfah (plasma benih).
3. Nilai Ekologis
Keanekaragaman hayati merupakan komponen ekosistem yang sangat penting, misalnya hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis memiliki nilai ekologis atau nilai lingkungan yang penting bagi bumi, antara lain: a. Merupakan paru-paru bumi Kegiatan fotosintesis hutan hujan tropis dapat menurunkan kadar karbondioksida (CO2) di atmosfer, yang berarti dapat mengurangi pencemaran udara dan dapat mencegah efek rumah kaca. b. Dapat menjaga kestabilan iklim global, yaitu mempertahankan suhu dan ke lembaban udara.
Gambar 9. Hutan tropis yang mempunyai nilai ekologis yang penting bagi bumi
4. Nilai Sosial
Budaya Keanekaragaman hayati dapat dikembangkan sebagai tempat rekreasi atau pariwisata, di samping untuk mempertahankan tradisi.

B. Manfaat Keanekaragaman Hayati

1. Sebagai sumber pangan, perumahan, dan kesehatan
a. Pangan:

•
•
•
•
•
Sumber karbohidrat: padi, jagung, singkong, kentang, dan lain-lain.
Sumber protein: kedelai, kecipir, ikan, daging, dan lain-lain.
Sumber lemak: ikan, daging, telur, kelapa, alpukat, durian, dan lain-lain.
Sumber vitamin: jambu biji, jeruk, apel, tomat, dan lain-lain.
Sumber mineral: sayur-sayuran.

2. Sebagai sumber pendapatan/devisa
a. Bahan baku industri kerajinan: kayu, rotan, karet
b. Bahan baku industri kosmetik: cendana, rumput laut
3. Sebagai sumber plasma nutfah, Misalnya hutan Di hutan masih terdapat tumbuhan dan hewan yang mempunyai sifat unggul, karena itu hutan dikatakan sebagai sumber plasma nutfah/sumber gen.
4. Manfaat ekologi
Selain berfungsi untuk menunjang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem.
5. Manfaat keilmuan
Keanekaragaman hayati merupakan lahan penelitian dan pengembangan ilmu yang sangat berguna untuk kehidupan manusia.
6. Manfaat keindahan
Bermacam-macam tumbuhan dan hewan dapat memperindah lingkungan.
Bagaimana cukup jelas uraian materi yang baru saja Anda pelajari? Baik! Dari uraian materi tersebut kita menyadari begitu banyak manfaat keanekaragaman hayati dalam hidup kita. Pemanfaatan keanekaragaman hayati yang begitu banyak dan beragam tentu saja dapat mengancam kelestariannya.
Coba Anda perhatikan! Berkat kemajuan ilmu dan teknologi, terjadi peledakan jumlah penduduk. Apa akibatnya? Akibatnya eksploitasi (penggunaan terhadap keanekaragaman hayati semakin meningkat). Setiap tahun jutaan hektar hutan menghilang karena berubah fungsi untuk berbagai kegiatan manusia. Pembabatan dan pembakaran hutan, reklamasi pantai dan rawa, pengembangan industri yang tidak dilengkapi pengolahan limbah, serta pemakaian bahan kimia seperti pupuk dan pestisida secara berlebihan, akan menghancurkan keanekaragaman hayati.
Apabila kegiatan manusia seperti tersebut di atas tidak segera diakhiri, manusia sendiri yang akan menderita kerugian. Tahukah Anda, bahwa hutan hujan tropis yang diperkirakan mengandung 50% – 90% keanekaragaman hayati dunia sebagian besar sudah dibabat. Pembabatan hutan hujan tropis, diperkirakan menyebabkan hilangnya 15% species di hutan tersebut.
Untuk itu, agar keanekaragaman hayati tidak terancam kelestariannya, maka kita harus arif (bijaksana) dalam memanfaatkannya, dengan mempertimbangkan aspek manfaat dan aspek kelestariannya.
Menurut Anda, apakah rusaknya keanekaragaman hayati pada suatu daerah atau negara hanya menjadi tanggung jawab daerah atau negara tersebut? Bagus! Tanggung jawab kerusakan keanekaragaman hayati memang merupakan tanggung jawab kita bersama. Dan perlu pula dikembangkan kesadaran kepada semua masyarakat semboyan yang menyatakan “Tanpa keanekaragaman hayati, tidak ada masa depan”.
Adapun usaha-usaha (upaya-upaya) pemerintah Indonesia dalam pelestarian (konservasi) keanekaragaman hayati antara lain sebagai berikut:
1. Taman Nasional, merupakan kawasan konservasi alam dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan. Beberapa taman nasional di Indonesia:

a. Taman Nasional Gunung Leuser Terletak di Propinsi Sumatera Utara dan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Contoh tumbuhan yang dilestarikan: meranti, keruing, durian hutan, menteng, Rafflesia arnoldi var.atjehensis. Hewan yang dilestarikan: gajah, beruang Malaya, harimau Sumatra, badak Sumatra, orangutan Sumatra, kambing sumba, itik liar, tapir.

Gambar 11. Flora dan fauna di Taman Nasional Gunung Leuser (a)Rafflesia arnoldi (b) Orangutan (c) tapir (d) Badak sumatera

b. Taman Nasional Kerinci Seblai Terletak di Propinsi Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Bengkulu. Tumbuhan yang dilestarikan: bunga bangkai (Amorphophalus titanium), Rafflesia arnoldi, palem, anggrek, kismis. Hewan yang dilestarikan: tapir, kelinci hutan, landak, berang-berang, badak Sumatra, harimau Sumatra, siamang, kera ekor panjang.

Gambar 12. Bunga Bangkai

c. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Terletak di propinsi Bengkulu sampai Lampung. Tumbuhan yang dilestarikan: meranti (Shorea sp), keruing (Diptetrocarpus sp), damar (Agathis alba), kemiri (Aleurites moluccana), mengkudu (Morinda citrifolia), Rafflesia arnoldi. Hewan yang dilestarikan: gajah, tapir, badak Sumatra, landak, trenggiling, ular sanca, bangau putih, rangkong, dan lain-lain.

d. Taman Nasional Ujung Kulon
Terletak di kawasan ujung barat Pulau Jawa. Taman Nasional ini merupakan habitat terakhir dari hewan-hewan yang terancam punah, seperti: badak bercula satu (Rhinoceros sendaicus), banteng (Bos sondaicus), harimau loreng (Panthera tigris), dan surili (Presbytis aygula).

Gambar 13. Flora dan fauna di Taman Nasional Ujung Kulon (a)Banteng (b) Surili (c) Harimau

e. Taman Nasional Kepulauan Seribu
Terletak di kepulauan Seribu Propinsi DKI Jakarta. Ekosistem yang dilindungi adalah ekosistem terumbu karang.

Gambar 14. Ekosistem

f. Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru
Terletak di kawasan Propinsi Jawa Timur di Kabupaten Probolinggo, Malang, Pasuruan dan Lumajang. Flora yang dilindungi adalah cemara gunung (Cassuarina junghuniana) sedangkan fauna yang dilindungi adalah babi hutan, kijang, ayam hutan, rusa, macan tutul.

g. Taman Nasional Meru Betiri
Terletak di Propinsi Jawa Timur di wilayah Jember Selatan. Taman Nasional ini merupakan habitat terakhir dari harimau loreng jawa (Panthera trigis). Flora langka yang dilindungi yaitu Rafflesia zollingeri.

h. Taman Nasional Baluran
Terletak di Propinsi Jawa Timur. Flora yang dilindungi : dadap biru (Erythocina endophyla), kosambi, widoro, nimba, kemiri. Sedangkan fauna yang dilindungi antara lain ular piton, buaya, banteng, rusa, kijang, macan tutul dan linsang.

i. Taman Nasional Komodo Terletak di Pulau Komodo Propinsi NTT. Flora yang dilindungi adalah Kayu hitam (Diospyros javanica) dan bayur (Pterospermum diversifolium). Satwa/fauna khas adalah komodo.

j. Taman Nasional Tanjung Puting Terletak di Propinsi Kalimantan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Timur dan Kalimantan Tengah. Taman Nasional ini merupakan pusat rehabilitasi orang utan. Flora yang dilindungi tanaman yang mengandung getah dan merusak saraf (misalnya: Gluta renghas) dan durian (Durio sp). Fauna yang dilindungi: orang utan, lutung, kancil, musang.
2. Cagar Alam, kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas tumbuhan, satwa dan ekosistem, yang perkembangannya diserahkan pada alam.
3. Hutan Wisata, kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat wilayahnya perlu dibina dan dipertahankan sebagai hutan, yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan, konservasi alam, dan rekreasi. Contoh hutan wisata yaitu hutan wisata Pangandaran.
4. Taman laut, merupakan wilayah lautan yang mempunyai ciri khas berupa ke-indahan alam yang ditunjuk sebagai kawasan konservasi alam, yang diperuntukkan guna melindungi plasma nutfah lautan. Contoh: Bunaken di Sulawesi Utara.
5. Hutan lindung, kawasan hutan alam yang biasanya terletak di daerah pe-gunungan yang dikonservasikan untuk tujuan melindungi lahan agar tidak tererosi dan untuk mengatur tata air. Contoh: Gunung Gede Pangrango.
6. Kebun Raya, adalah kumpulan tumbuh-tumbuhan di suatu tempat, dan tum-buh-tumbuhan tersebut berasal dari berbagai daerah yang ditanam untuk tujuan konservasi ex situ, ilmu pengetahuan, dan rekreasi, contoh: Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Purwodadi.
Read More...

Metode Pembelajaran S3H

Salah satu masalah pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah masih ada pola pembelajaran yang sangat teoritis dan kurang bervariasi. Selain itu, kegiatan pembelajaran di kelas sering textbook oriented dan kurang mengaitkan dengan lingkungan dan situasi dimana peserta didik berada.Seringkali kegiatan kelas hanya melalui metode ceramah dan diikuti dengan latihan mengerjakan soal atau pemberian tugas rumah. Oleh karena itu, peserta didik sering merasa bosan dan motivasi belajarnya menurun. Pola pembelajaran dengan teknik yang bervariasi diharapkan dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi peserta didik.


Serius, santai, dan sabar serta sedikit humor, itulah kata-kata lugas yang meluncur bebas dari peserta didik, ketika diajukan sebuah pertanyaan “ Bagaimana menurut kalian, cara guru mengajar yang menyenangkan”. Memang sepertinya perkataan serius, santai, dan sabar, serta sedikit humor, terasa asyik terdengar dan mengandung artian yang mendalam (bermakna). Didalam kamus bahasa Indonesia ( 1994 ), dijelaskan bahwa :

· Serius mengandung arti : sungguh-sungguh

· Santai menandung arti : bebas dari tegang

· Sabar mengandung arti : tidak cepat marah

· Humor mengandung arti : bersifat lucu


Jika kata-kata tersebut diatas dirangkai akan menjadi sebuah kalimat : “Sungguh-sungguh bebas dari dari rasa tegang, dan tidak cepat marah serta bersifat lucu”. Kalimat inilah yang mengilhami penulis, untuk mencari dan menemukan sebuah metodelogi pembelajaran yang eksplisit, atau yang lebih tepat guna.


Sardiman A.M. menjelaskan, “tugas dan tanggung jawab guru adalah sangat luas, tetapi tugas mengajar didepan kelas merupakan salah satu tugas yang sangat penting. Demikian pentingnya sehingga berhasil tidaknya seorang guru sering diukur dari aspek ini saja. Guru akan dikatakan pandai kalau dapat mengajar dimuka kelas dengan baik.” (Microteaching, 2001:180).


Oleh karena itu, jawaban atau lebih merupakan ungkapan kata hati peserta didik diatas perlu ditindak lanjuti, tentunya dimulai dari pengumpulan data dari peserta didik dan menganalisanya. Kemudian penulis mencoba merumuskan menjadi sebuah konsep pembelajaran, yaitu : “ Metode Pembelajaran S3H” ( Serius, Santai, dan Sabar serta sedikit Humor ).


Implementasi Metode Pembelajaran S3H :

Serius : Dalam menyampaikan materi pelajaran, guru harus bersungguh-sungguh dan tegas. Nada suara, volume dan kecepatan merupakan pemanis komunikasi, perubahan nada dan kualitas suara dapat menyatakan : kegembiraan, keraguan, kepastian, kekecewaan dan ketidak pastian . Menyisipkan mata pelajaran lain yang relevan, untuk menambah wawasan serta memperkaya materi pelajaran.


Santai : Dalam menyampaikan materi pelajaran, sebaiknya dilakukan tidak tergesah-gesah, ciptakan suasana yang bebas dari rasa tegang. Fokuskan penyampaian pada materi yang esensial, guna merangsang timbulnya keinginan peserta didik untuk bertanya.

Sabar : Disaat interaksi belajar mengajar berlangsung, adakalanya peserta didik tidak memperhatikan, bergurau, berbicara, dan mengganggu teman yang lain, sebaiknya guru tidak cepat marah/emosi. Ajukan pertanyaan untuk mengembalikan perhatian dan kosentrasi semula. Pendekatan dan perhatian guru terhadap siswa dapat membangkitkan motifasi dan percaya diri untuk lebih giat lagi belajar.


Humor : Ketika suasana kelas mulai berubah, peserta didik mulai merasa jenuh, dan daya serap mulai menurun, disaat itulah dibutuhkan kepiawaian guru untuk tetap mempertahankan situasi yang kondusif. Banyolan atau humor-humor segar yang relevan dengan materi pelajaran, atau pengalaman-pengalaman indah, dapat diberikan dengan ekspresi wajah, alis terangkat, dahi berkerut, anggukan kepala serta mata melebar mampu mengembalikan situasi dan kondisi yang lebih menggairahkan lagi.

E. Mulyasa mengatakan guru harus dapat menciptakan situasi, sehingga materi pelajaran selalu nampak menarik, tidak membosankan. Guru harus punya sensitifitas yang tinggi untuk segera mengetahui apakah kegiatan pembelajaran sudah membosankan siswa. Jika hal ini terjadi, guru harus segera mencari metodelogi pembelajaran yang lebih tepat guna ( KBK, 2004 : 24 ).


Dari uraian diatas, nampaknya gayung bersambut, metode pembelajaran S3H, kiranya dapat dijadikan alternatif (diuji cobakan). Menurut hemat penulis yang telah melaksanakan sejak beberapa waktu yang lalu hingga kini, hasilnya cukup memuaskan. Dengan demikian diharapkan metode pembelajaran S3H yang sederhana dan alami ini, dapat membantu memecahkan masalah yang sering dialami guru ketika mengajar di depan kelas. Selamat mencoba.


Sumber : Lihat Disini
Read More...

Ubah Bahasa

Jumlah Pengunjung

Yang Berkunjung

free counters

Pengunjung Hari ini

Free Hit Counter

Label

 

Behind This Blog

Foto Saya
Dedi Supriyadi
Single, 26 Tahun Tahap akhir Kuliah di STKIP Arrahmaniyah Kota Depok dan BSI Margonda Depok Angkatan 2012 s/d 2015
Lihat profil lengkapku

Reader Community